Opini : GIGO dalam Sekolah
Oleh: Dr. Iffan Gallant El Muhammady, S.Sos., M.Si.
Tulisan ini bukan bermakna peyoratif mengenai sekolah. Apabila membaca dengan ketidak telitian, maka pembaca akan terpeleset dalam sebuah diksi yang negatif. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam mengenai manajemen pendidikan sehingga timbul insight yang baik mengenai pendidikan di era covid 19.
Demokrasi Dan Manajemen
Demokrasi, bila benar dijalankan dengan baik, tentunya akan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tidak hanya di dunia politik, sosial, dan ekonomi saja. Demokrasi memiliki enter pass yang tidak lagi diragukan atau dipertanyakan untuk masuk di dunia pendidikan.
Sejak dini kita diajarkan di alam demokrasi. Pemilihan ketua kelas, kesempatan bertanya setelah materi, penghargaan terhadap harkat dan martabat guru maupun siswa, sikap rela berkorban, dan lain sebagainya.
Nilai yang baik coba dikonstruk di dunia pendidikan sebagai sebuah pembelajaran bagi tidak hanya siswa, akan tetapi juga gurunya. Sebenarnya guru, menjadi pembelajar yang baik dengan adanya konstruksi pendidikan di sekolah.
Bagaimana tidak?, sebenarnya guru pun belajar dan menerima pembelajaran dengan mengajarkan ilmu yang sudah diserap di universitas pendidikan yang pernah ditempuh. Ilmu akan bermanfaat ketika diajarkan. Apalagi mengajar itu tidak segampang membaca buku panduan lalu berharap siswa mengerti, tidak demikian.
Guru yang baik akan selalu melakukan sebuah eksperimen berdasarkan teori pendidikan dan melakukan refleksi. Sebagaimana Ucapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa semua orang itu unik. Mereka memiliki tingkat kejeniusan yang khas. Tidak adil bila membandingkan kemampuan satu orang dengan orang lain. seperti menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon.
Nah karena individu itu unik, maka guru selalu melakukan sebuah evaluasi yang terus menerus untuk memastikan bahwa siswa memahami materi dengan caranya sendiri namun tidak keluar dari tujuan pembelajaran.
Apa yang dilakukan guru ini adalah sebuah bentuk adopsi dari ilmu manajemen yang diterapkan di dunia pendidikan. Guru melakukan perencanaan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengontrol serta melakukan evaluasi. Diksi mengontrol bukan untuk melakukan kontrol terhadap siswa. namun mengupayakan agar seluruh tahapan manajemen dilakukan dengan baik.
Di dunia manajemen kita mengenal P-O-A-C yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating and Controlling. Di dunia pendidikan pun sama. Planning oleh guru dilakukan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau dikenal dengan RPP, dan seterusnya. Yang paling penting guru diharapkan melakukan proses evaluasi. Bukan evaluasi terhadap siswa, akan tetapi evaluasi proses belajar mengajar dengan kolega guru yang lain dan dibentuk dalam karya tulis ilmiah atau dikenal Penelitian Tindakan Kelas atau PTK.
Maka bila kita simpulkan cepat-cepat, bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan guru itu sudah bisa mencerminkan proses manajemen yang baik.
GIGO Dalam Sekolah
Supaya tidak menjadi salah kaprah dalam memahami tulisan ini, mari kita bahas, apakah itu GIGO?. GIGO memiliki kepanjangan Garbage In Garbage Out. Istilah GIGO sebenarnya dipakai di dunia komputasi, dimana kode yang salah akibat kecerobohan teknisi yang dimasukkan dalam sebuah string ternyata bisa mengganggu algoritma dan mengganggu aplikasi sehingga tidak berjalan dengan baik.
Istilah ini pun cepat terserap dengan baik di dunia manajemen, dimana informasi masuk kepada pimpinan suatu manajemen, yang kemudian diolah dan menjadi keputusan-keputusan strategis. Apabila data informasi yang masuk didapati data yang tidak valid dan reliabel, maka keputusan yang muncul pastilah keputusan yang tidak valid dan reliabel pula.
Akhirnya membawa kepada bencana manajemen. Bencana kesalahan mengambil keputusan. Kesalahan mengambil keputusan maka dapat dipastikan bila tidak segera ditangani, akan mengganggu gerak organisasi. Bahasa kasarnya, informasi sampah akan menghasilkan keputusan sampah.
Begitu pula dengan manajemen pendidikan. Apabila dalam proses manajemen pendidikan terdiri dari informasi-informasi yang tidak valid dan reliabel, tentu akan mengganggu proses manajemen pendidikan.
Sebagaimana contoh, apabila seorang guru dalam proses belajar mengajarnya tidak menggunakan buku-buku sumber ilmu yang baik, dan tanpa kemampuan yang baik dapat diartikan dia mengajar dengan asal-asalan.
Kita tahu betapa susahnya pelajaran sejarah berusaha menyusun literatur dengan baik. Terutama bagi negara berkembang yang sedang berusaha untuk meluruskan alur sejarah yang baik. Misal, sejarah tentang perebutan kekuasaan di era orde lama dan orde baru. Sampai saat ini pun masih menjadi sebuah perdebatan dikalangan para sejarawan tentang bagaimana sejarah indonesia disusun dengan baik.
Maka penting bagi guru untuk memilihkan input yang baik sehingga tidak menjadi sebuah konstruk berpikir yang baik bagi siswa. Guru dianalogikan sebagai Sun Gear dalam sebuah Planetary gear unit, maka guru tidak lepas dari sebuah sistem GIGO. Untuk menghasilkan siswa yang baik, maka diperlukan guru yang baik.
Tantangan Pendidikan Di Era Covid-19
Vaksin Covid-19 kini sudah mulai menemui babak baru. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan dengan cara pembelajaran jarak jauh atau secara online, sehingga siswa dan guru melakukan pembelajaran dari rumah atau dikenal dengan work from home dan melakukan social distancing serta physical distancing, maka setelah adanya vaksin bagi anak, maka pemerintah memutuskan untuk melakukan PTM 100%.
Sebagian tentu menyambut dengan gembira. Sebagian, masih bertanya apakah ini menjadi sesuatu hal yang patut untuk dikaji kembali. Mengingat data saat ini menunjukkan bahwa anak yang melakukan PTM 100% pun menghadapi sebuah konsekuensi tertular Covid-19 dengan varian Omnicron.
Apa yang ditulis di sub judul di atas tentu menjadi sebuah omong kosong belaka, ketika kita menghadapi sebuah kenyataan bahwa data-data yang ada tidak dipakai dengan baik untuk memutuskan sebuah kebijakan yang baik.
Sama halnya ketika kita melihat bahwa guru dan buku menjadi sesuatu hal yang patut untuk diperhatikan. Orang tua tentunya ketika menyekolahkan anaknya, pasti juga akan memperhatikan hal ini. Bagi orang tua yang memahami pentingnya pendidikan tentunya.
Tidak hanya nama besar sekolah, juga proses pembelajaran apa yang nanti dilaksanakan di sekolah, akan tetapi juga gurunya serta bukunya. Kadang kita merasa hal yang remeh, terutama yang terakhir. Sumber ilmu. Buku.
Akan tetapi, guru adalah suatu instrumen yang bisa kita analisis dengan baik. Siapa yang menjadi sun gear yang nanti menggerakkan planetarium gear unit. Apakah beliau capable untuk menggerakkan proses belajar mengajar dengan baik? ataukah sebaliknya. Apakah model Ibu Muslimah Hafsary dan K.H Harfan Effendy Noor selaku kepala sekolah Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantong Belitong itu atau model lainnya?.
Sama dengan buku, yang kadang kita anggap remeh. Mari kita lihat analogi gawai, daya rusak dari informasi yang negatif yang diterima anak saat membuka gawai, sangatlah tinggi. fragility anak serta daya serap yang besar mempengaruhi tindakan tingkah laku anak. Maka penting bagi kita untuk memilihkan apa yang benar-benar dibutuhkan anak. Itupun bila orang tua sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak.
Permasalahan hidup saat ini tentu membuat orang tua sudah berpeluh dengan keringat, menyisakan sedikit waktu bagi anak.Dan sekolah menjadi tumpuan orang tua untuk mendidik anak dengan baik.
Lalu apakah kita sebagai orang tua hanya diam pasrah kepada pihak sekolah dan komite sekolah?
Tulisan ini dimuat pada Radar Jember edisi 09 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar