Opini : Antrean SPBU di Jember, Trauma Kolektif, dan Rapuhnya Literasi Krisis
Oleh : Haressa Lintang Rizkika A ntrean panjang di banyak SPBU Kabupaten Jember menunjukkan bahwa yang sedang bekerja bukan hanya kebutuhan bensin, tetapi juga kecemasan publik. Kecemasan itu muncul karena warga tidak sekadar membaca situasi sebagai aktivitas pembelian biasa, melainkan sebagai tanda kemungkinan krisis yang bisa berulang. Narasi tentang antrean lebih dulu beredar melalui influencer media sosial, lalu menyebar cepat ke ruang-ruang percakapan warga. Akibatnya, antrean tidak lagi dipahami sebagai fakta lapangan semata, tetapi sebagai sinyal bahaya yang mendorong orang untuk segera ikut bergerak. *foto dokumentasi pribadi Situasi ini menjadi lebih rumit karena informasi yang diterima warga datang secara cepat, tetapi tidak selalu utuh. Ketika publik menerima potongan informasi tanpa penjelasan yang memadai, tafsir yang muncul sering lebih besar daripada faktanya sendiri. Di satu sisi, ada warga yang datang ke SPBU karena takut stok menipis. Di sisi lain, dalam percakapan w...