Postingan

Berita Terpopuler

Opini : Antrean SPBU di Jember, Trauma Kolektif, dan Rapuhnya Literasi Krisis

Gambar
Oleh : Haressa Lintang Rizkika A ntrean panjang di banyak SPBU Kabupaten Jember menunjukkan bahwa yang sedang bekerja bukan hanya kebutuhan bensin, tetapi juga kecemasan publik. Kecemasan itu muncul karena warga tidak sekadar membaca situasi sebagai aktivitas pembelian biasa, melainkan sebagai tanda kemungkinan krisis yang bisa berulang. Narasi tentang antrean lebih dulu beredar melalui influencer media sosial, lalu menyebar cepat ke ruang-ruang percakapan warga. Akibatnya, antrean tidak lagi dipahami sebagai fakta lapangan semata, tetapi sebagai sinyal bahaya yang mendorong orang untuk segera ikut bergerak. *foto dokumentasi pribadi Situasi ini menjadi lebih rumit karena informasi yang diterima warga datang secara cepat, tetapi tidak selalu utuh. Ketika publik menerima potongan informasi tanpa penjelasan yang memadai, tafsir yang muncul sering lebih besar daripada faktanya sendiri. Di satu sisi, ada warga yang datang ke SPBU karena takut stok menipis. Di sisi lain, dalam percakapan w...

Opini : Mengakhiri Salah Paham Kritik di Ruang Publik Jember: Dari Gaduh ke Perbaikan

Oleh : Dr. Iffan Gallant E.M.   Di Jember, berpendapat makin mudah tetapi mendengar kian jarang: di media sosial, forum warga, hingga rapat resmi, kritik yang mestinya menjadi energi korektif justru sering runtuh jadi pola “ramai–gaduh–lupa”. Kontestasi pemilu yang belum benar-benar selesai ikut menyisakan residu rivalitas—membelah ruang publik menjadi kubu yang saling curiga. Akibatnya, pengkritik merasa sudah berteriak namun tak digubris; pemerintah dan institusi publik merasa dihantam tanpa nuansa dan tanpa data yang adil. Kebuntuan ini berulang karena kesalahpahaman: cara kita menyampaikan kritik kerap melebar ke serangan identitas, sementara cara kita menerimanya menyempit pada defensif prosedural—dua kutub yang sama-sama menutup pintu perbaikan kebijakan. Kritik Bukan Ledakan Emosi, Melainkan Arsitektur Argumen Kesalahan lazim dari kubu pengkritik adalah mengira intensitas sama dengan ketepatan. Nada tinggi, diksi tajam, atau humor sarkastik seakan menguatkan pesan. Padahal, ...