Opini : Mengakhiri Salah Paham Kritik di Ruang Publik Jember: Dari Gaduh ke Perbaikan
Oleh : Dr. Iffan Gallant E.M. Di Jember, berpendapat makin mudah tetapi mendengar kian jarang: di media sosial, forum warga, hingga rapat resmi, kritik yang mestinya menjadi energi korektif justru sering runtuh jadi pola “ramai–gaduh–lupa”. Kontestasi pemilu yang belum benar-benar selesai ikut menyisakan residu rivalitas—membelah ruang publik menjadi kubu yang saling curiga. Akibatnya, pengkritik merasa sudah berteriak namun tak digubris; pemerintah dan institusi publik merasa dihantam tanpa nuansa dan tanpa data yang adil. Kebuntuan ini berulang karena kesalahpahaman: cara kita menyampaikan kritik kerap melebar ke serangan identitas, sementara cara kita menerimanya menyempit pada defensif prosedural—dua kutub yang sama-sama menutup pintu perbaikan kebijakan. Kritik Bukan Ledakan Emosi, Melainkan Arsitektur Argumen Kesalahan lazim dari kubu pengkritik adalah mengira intensitas sama dengan ketepatan. Nada tinggi, diksi tajam, atau humor sarkastik seakan menguatkan pesan. Padahal, ...