Paradoks Kebangkitan Nasional: Ketika Bangsa Diminta Tenang, tetapi Rakyat Sedang Bertahan

Setiap tanggal 20 Mei, kita kembali bertemu dengan frasa yang sama: Hari Kebangkitan Nasional. Negara mengucapkan selamat. Pejabat menyampaikan pidato. Poster beredar di media sosial. Narasi tentang persatuan, optimisme, dan masa depan kembali diproduksi. Namun, di balik seluruh simbol peringatan itu, ada pertanyaan yang pelan-pelan tumbuh di ruang batin banyak warga: kebangkitan macam apa yang sedang kita rayakan ketika hidup sehari-hari justru terasa semakin berat?

Pertanyaan ini tidak lahir dari pesimisme kosong. Ia lahir dari kenyataan. Di berbagai ruang, kita melihat sentimen negatif terhadap pemerintah semakin menguat. Kritik warga tidak selalu hadir karena mereka ingin gaduh, tetapi karena ada ketidakpercayaan yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Rakyat berhadapan dengan harga kebutuhan yang naik, pekerjaan yang tidak pasti, ruang hidup yang terdesak, eksploitasi alam yang terus berlangsung, dan kebijakan yang sering terasa jauh dari denyut kehidupan masyarakat bawah.

Pada saat yang sama, negara kerap meminta masyarakat untuk tenang. Tenang menghadapi gejolak ekonomi. Tenang menghadapi ketidakpastian politik. Tenang menghadapi tekanan hidup. Tenang menghadapi perubahan yang arahnya tidak selalu jelas. Tetapi permintaan untuk tenang bisa menjadi paradoks apabila ia tidak disertai dengan keberanian untuk mengakui bahwa banyak warga sedang tidak baik-baik saja.

*foto ilustrasi dari AI

                                    

Hari ini, ketika pidato kenegaraan tentang kebangkitan disampaikan, publik juga membaca tanda-tanda lain: nilai rupiah yang melemah, indeks saham yang tertekan, dan kegelisahan ekonomi yang beredar luas. Angka-angka ekonomi memang perlu dibaca dengan hati-hati, tetapi ia tetap memberi sinyal bahwa optimisme resmi tidak selalu sejalan dengan rasa aman yang dirasakan warga. Di titik inilah pertanyaan tentang kebangkitan menjadi semakin penting: apakah kebangkitan hanya berarti kemampuan negara menyusun narasi, atau keberanian bangsa untuk membaca kenyataan secara jujur?

Kebangkitan Nasional, jika dikembalikan pada akar sejarahnya, bukanlah sekadar perayaan simbolik. Ia lahir dari kesadaran. Boedi Oetomo pada 1908 menjadi tanda bahwa kaum terdidik bumiputra mulai memahami pentingnya organisasi, pendidikan, dan kesadaran kolektif. Kebangkitan bukan dimulai dari slogan, melainkan dari kemampuan melihat bahwa kondisi yang ada tidak adil, tidak sehat, dan tidak bisa terus dibiarkan.

Maka, merayakan Hari Kebangkitan Nasional hari ini seharusnya tidak berhenti pada ucapan “selamat bangkit”. Sebab pertanyaannya: siapa yang sedang bangkit? Dari apa kita bangkit? Dan menuju ke mana kebangkitan itu diarahkan?

Bagi banyak warga, hidup hari ini terasa seperti rangkaian survival mode yang panjang. Bangun pagi, bekerja, mengurus keluarga, membayar cicilan, menekan kebutuhan, mencari tambahan pendapatan, menahan cemas, lalu mengulang semuanya esok hari. Mereka tidak sedang membicarakan kebangkitan dalam bahasa besar negara. Mereka sedang berusaha bertahan dari bulan ke bulan, dari tagihan ke tagihan, dari satu krisis kecil ke krisis kecil berikutnya.

Di sinilah letak paradoksnya. Negara berbicara tentang kebangkitan, sementara rakyat sering kali hanya diberi pilihan untuk bertahan. Negara berbicara tentang kemajuan, sementara sebagian warga masih bernegosiasi dengan kebutuhan dasar. Negara berbicara tentang stabilitas, sementara rakyat merasakan ketidakpastian sebagai pengalaman harian. Negara berbicara tentang optimisme, sementara banyak orang diam-diam bertanya apakah masa depan masih bisa dipercaya.

Namun, tulisan ini tidak ingin berakhir dalam keputusasaan. Justru karena kondisi tidak ideal, makna kebangkitan perlu direbut kembali dari sekadar seremoni. Kebangkitan tidak harus selalu dimulai dari panggung besar. Ia bisa dimulai dari keberanian warga untuk tetap berpikir kritis. Dari keberanian komunitas untuk saling menjaga. Dari keberanian akademisi untuk tidak memproduksi pengetahuan yang jauh dari penderitaan sosial. Dari keberanian lembaga masyarakat sipil untuk menulis, mencatat, mendengar, dan menghubungkan suara-suara kecil yang sering tidak masuk dalam pidato resmi.

Kebangkitan hari ini mungkin bukan kebangkitan yang megah. Mungkin ia tidak hadir dalam bentuk gegap gempita. Mungkin ia hanya berupa ibu yang tetap mengatur dapur rumah tangga di tengah harga yang naik. Buruh migran yang bekerja jauh demi keluarganya. Petani yang mempertahankan tanahnya dari tekanan ekonomi. Anak muda yang mulai bertanya mengapa politik terasa jauh dari etika. Warga desa yang mulai memahami pentingnya data, hak, dan partisipasi. Komunitas kecil yang tetap bergerak meski tanpa sorotan.

Dari sanalah asa masih mungkin tumbuh.

Optimisme yang sehat bukanlah optimisme yang menutup mata. Optimisme yang sehat adalah kemampuan untuk tetap melihat kemungkinan perubahan tanpa mengingkari beratnya kenyataan. Ia bukan ajakan untuk diam. Ia bukan perintah untuk tenang. Ia bukan kalimat penenang yang menunda kritik. Optimisme yang sehat justru lahir dari kesadaran bahwa bangsa ini hanya bisa bangkit jika warganya tidak dipaksa memaafkan ketidakadilan atas nama stabilitas.

Karena itu, merayakan Kebangkitan Nasional hari ini berarti berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit. Mengapa rakyat masih merasa jauh dari sejahtera? Mengapa sumber daya alam yang kaya tidak selalu menjadi keselamatan bagi warga sekitar? Mengapa kritik publik sering dianggap gangguan, bukan masukan? Mengapa kebijakan sering lebih cepat dipromosikan daripada dievaluasi? Mengapa rakyat selalu diminta tenang, sementara kegelisahan mereka jarang benar-benar didengar?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda tidak cinta Indonesia. Justru sebaliknya, ia adalah bentuk cinta yang tidak ingin bangsa ini tenggelam dalam ilusi. Cinta kepada bangsa tidak selalu berbentuk pujian. Kadang cinta hadir sebagai kritik. Kadang ia hadir sebagai kegelisahan. Kadang ia hadir sebagai tulisan kecil yang menolak lupa bahwa kebangkitan nasional adalah proyek yang belum selesai.

Maka, pada 20 Mei ini, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat mengucapkan “selamat bangkit” seolah semuanya baik-baik saja. Mungkin yang lebih jujur adalah mengatakan: mari belajar bangkit tanpa menutup mata.

Bangkit bukan berarti menenangkan rakyat agar tidak bertanya. Bangkit berarti membuka ruang agar rakyat boleh bicara. Bangkit bukan berarti memproduksi optimisme kosong. Bangkit berarti membangun alasan yang masuk akal agar warga bisa kembali percaya. Bangkit bukan berarti kembali ke rutinitas masing-masing dengan mode bertahan hidup. Bangkit berarti mencari cara agar survival mode tidak menjadi nasib kolektif bangsa.

Kebangkitan Nasional, pada akhirnya, bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cermin untuk hari ini. Dan di depan cermin itu, kita perlu cukup berani untuk mengakui bahwa Indonesia masih menyimpan luka, ketimpangan, dan ketidakpastian. Tetapi selama masih ada warga yang mau berpikir, menulis, bertanya, merawat sesama, dan menolak menyerah pada keadaan, asa belum sepenuhnya padam.

Barangkali di situlah kebangkitan yang paling mungkin hari ini: bukan kebangkitan yang dirayakan dengan meriah, tetapi kebangkitan yang dimulai dari kesadaran paling sederhana bahwa bangsa ini masih layak diperjuangkan, justru karena ia belum baik-baik saja.


-Refleksi 20 Mei dari LTS Foundation-

Postingan Populer